Resilience MUN 2026: Melatih Diplomasi dan Ketahanan Generasi Muda di Tengah Dinamika Global

Makassar, 18 Juni 2026 — Departemen Ilmu Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin, kembali menyelenggarakan Resilience Model United Nations (MUN) 2026 pada Kamis (18/6). Kegiatan ini merupakan implementasi dari mata kuliah Organisasi dan Kerjasama Internasional, yang dikemas dalam bentuk simulasi sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bagi mahasiswa.

Lebih dari sekadar konferensi Model United Nations, Resilience MUN 2026 dirancang sebagai ruang pembelajaran interaktif bagi calon diplomat muda untuk memperkuat kemampuan berpikir kritis, negosiasi, kolaborasi, serta ketahanan dalam menghadapi berbagai tantangan global kontemporer. Melalui sesi-sesi komite yang dinamis dan diskusi akademik yang intens, para delegasi diajak untuk mengeksplorasi isu-isu internasional yang kompleks dalam dunia yang semakin saling terhubung.

Sesi foto bersama

Tahun ini, Resilience MUN 2026 mengusung tema besar “Safeguarding the Indo-Pacific Maritime Commons: Balancing Security, Sovereignty, and Environmental Stewardship in Strategic Sea Lanes and Underwater Heritage”. Tema ini menyoroti pentingnya keseimbangan antara keamanan kawasan, kedaulatan negara, serta perlindungan lingkungan dan warisan budaya bawah laut di kawasan Indo-Pasifik yang strategis.

Kegiatan ini menghadirkan beberapa dewan (council) utama, yaitu United Nations Security Council (UNSC), United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), serta United Nations Environment Programme (UNEP). Masing-masing council membahas agenda dengan fokus isu yang berbeda namun saling berkaitan dalam kerangka besar tata kelola global.

Di UNSC, delegasi membahas isu “Safeguarding Freedom of Navigation and the Regime of Transit Passage through the Strait of Malacca: Addressing Threats to International Peace and Security on Strategic Maritime Chokepoints”. Diskusi ini menyoroti pentingnya menjaga stabilitas jalur pelayaran internasional, khususnya di kawasan Selat Malaka yang memiliki nilai strategis global.

Sementara itu, UNESCO mengangkat tema “Balancing Maritime Sovereignty and Historical Justice: Addressing the International Dispute over the San José Shipwreck and the Protection of Underwater Cultural Heritage”. Isu ini membuka ruang diskusi mengenai bagaimana negara-negara dapat menyeimbangkan klaim kedaulatan dengan perlindungan warisan budaya bawah laut sebagai bagian dari sejarah kemanusiaan bersama.

Adapun UNEP berfokus pada isu lingkungan melalui agenda “Addressing Marine Plastic Pollution in the Indo-Pacific Region”. Pembahasan ini menyoroti urgensi kerja sama internasional dalam mengatasi permasalahan polusi plastik laut yang semakin mengancam ekosistem dan keberlanjutan lingkungan global.

Award Session

Resilience MUN sendiri bukanlah kegiatan yang baru. Simulasi Model United Nations di lingkungan Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP Unhas telah dilaksanakan sejak tahun 2019 dan terus berkembang hingga saat ini. Setiap penyelenggaraannya tidak hanya menjadi ajang latihan diplomasi, tetapi juga wadah pembentukan karakter mahasiswa sebagai calon aktor hubungan internasional yang adaptif dan visioner.

Melalui Resilience MUN 2026, mahasiswa tidak hanya berlatih memahami mekanisme kerja organisasi internasional, tetapi juga didorong untuk berpikir lebih jauh tentang solusi inovatif atas persoalan global. Dengan demikian, kegiatan ini menjadi salah satu bentuk nyata pembelajaran yang menghubungkan teori akademik dengan praktik diplomasi internasional secara langsung dan kontekstual.

Penulis: Rhin Khairina Rahmat, S.IP, M.A
Editor: Munif Arif Ranti, S.IP, M.A