Satu Dekade Diplomasi Indonesia: Refleksi dan Pencapaian
Pada 20 Agustus 2024, Departemen Ilmu Hubungan Internasional dan Kementerian Luar Negeri Indonesia mengadakan Kuliah Umum bertajuk “10 Tahun Perjalanan Diplomasi Indonesia.” Acara ini menghadirkan dua narasumber utama, yakni Prof. Darwis, M.A., Ph.D. (Guru Besar Ilmu Hubungan Internasional Universitas Hasanuddin) dan Pak Bonifacius Riwi Wijayanto (Kepala Pusat Pembinaan Jabatan Fungsional Kementerian Luar Negeri), yang membahas perjalanan diplomasi Indonesia selama satu dekade terakhir di bawah kepemimpinan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi.
Prof. Darwis memulai diskusi dengan menekankan pentingnya menilai kebijakan luar negeri Indonesia melalui sudut pandang akademisi. Beliau memperkenalkan tujuh parameter yang digunakan untuk mengevaluasi keberhasilan politik luar negeri, termasuk spektrum global, interaksi internal negara, dan kepemimpinan. Ia menyoroti bahwa selama 10 tahun terakhir, Menlu Retno Marsudi telah memainkan peran kunci yang luar biasa dalam diplomasi Indonesia, dengan beberapa pencapaian signifikan.
Diskusi Prof. Darwis menyoroti foreign policy Indonesia atau kebijakan luar negeri Indonesia. Ia menyebutkan istilah-istilah seperti foreign policy goes to local, dimana semua kebijakan luar negeri Indonesia harus diketahui oleh masyarakat Indonesia, hingga foreign policy goes to viral, sehingga seluruh kebijakan luar negeri kita disiarkan secara menyeluruh. Hal tersebut disorot oleh Prof. Darwis sebagai hasil dari upaya-upaya diplomasi di Era Menlu Retno Marsudi yang menekankan outward looking foreign policy. Prof. Darwis juga menghighlight bagaimana Indonesia telah berhasil menyelenggarakan G20 dan memperkuat posisi Indonesia di kancah internasional melalui kepemimpinannya di G20 dan ASEAN.
Diplomasi Indonesia pada masa Menlu Retno Marsudi juga difokuskan pada peningkatan kerjasama ekonomi. Dalam periode 2014 hingga 2023, nilai perdagangan Indonesia meningkat secara signifikan, mencapai 439 miliar pada tahun 2023. Hal ini dicapai melalui negosiasi dengan berbagai pemangku kepentingan internasional dan pendekatan diplomasi yang kooperatif. Diplomasi Perlindungan WNI di luar negeri merupakan salah satu prioritas utama terhadap Warga Negara Indonesia (WNI) di luar negeri. Menlu Retno berhasil menangani banyak kasus perlindungan WNI, termasuk kasus Siti Aisyah yang terlibat dalam pembunuhan Kim Jong-nam di Malaysia. Prioritas selanjutnya adalah Diplomasi Kelautan. Walaupun Indonesia tidak termasuk negara claimant, namun Indonesia cukup aktif dalam diplomasi kelautan, termasuk penyelesaian konflik perbatasan dengan negara-negara tetangga dan upaya menjaga perdamaian di kawasan Asia Tenggara.
Upaya diplomasi Indonesia juga dilakukan di berbagai kawasan, Menlu Retno Marsudi juga aktif memberikan statement mengenai konflik-konflik seperti konflik antara Israel dan Palestina. Indonesia juga berinisiatif untuk mengajak ASEAN untuk lebih memperhatikan konflik di Gaza. Di tengah pandemi COVID-19, Indonesia mengambil langkah-langkah cepat untuk mendorong pemulihan ekonomi dan distribusi vaksin, membantu negara-negara lain di kawasan. Salah satu penghargaan yang diberikan oleh Indonesia mengenai aksi-aksi diplomasi nya berhasil membawa Indonesia sebagai negara pemegang kunci kekuasaan dengan kualitas yang baik khususnya di kawasan Asia Tenggara di 2023. Ini semua berkat usaha dan upaya Kementerian Luar negeri di bawah kepemimpinan Menlu Retno Marsudi.
Dalam pemaparannya nampak bagaimana Prof. Darwis menilai perjalanan diplomasi Indonesia dari sudut pandang akademis, sementara Pak Boni sebagai narasumber kedua memberikan penjelasan mengenai diplomasi yang lebih fokus pada praktik dan mekanisme pelaksanaannya. Pak Boni dalam diskusinya mengawali dengan gambaran umum mengenai diplomasi dalam VUCA era volatility (volatilitas), uncertainty (ketidakpastian), complexity (kompleksitas), dan ambiguity (ambiguitas), Beliau kemudian memperkenalkan prioritas utama kebijakan luar negeri Indonesia, yang dirangkum dalam konsep “4+1”. Diplomasi Ekonomi: Penguatan kerjasama ekonomi, peningkatan investasi asing, dan akses pasar internasional. Diplomasi Perlindungan WNI: Fokus pada keamanan dan kesejahteraan WNI di luar negeri. Diplomasi Kedaulatan: Penegasan posisi Indonesia dalam mempertahankan kedaulatan wilayah, termasuk di Laut Cina Selatan. Peningkatan Kontribusi Global: Memperkuat peran Indonesia di panggung internasional melalui organisasi global seperti ASEAN dan PBB. +1. Infrastruktur Diplomasi: Penguatan kelembagaan, kualitas SDM, dan pemanfaatan teknologi dalam diplomasi.
Pak Boni juga mengemukakan 4 kunci diplomasi Indonesia, yakni; well measured, well calculated, action oriented, result oriented. Bahwa pelaku diplomasi tidak hanya duduk di belakang meja saja, namun dituntut untuk beraksi turun langsung ke lapangan dan lebih action oriented. Beliau juga menjelaskan mengenai tiga jabatan fungsional yang dibina oleh Kementerian Luar Negeri, yaitu Diplomat, Penata Kanselerai, dan Penata Informasi Diplomatik, disebut sebagai “Mesin Diplomasi Indonesia.” Mereka memainkan peran penting dalam menjalankan strategi diplomasi, administrasi, dan komunikasi informasi diplomatik, memastikan bahwa kepentingan nasional Indonesia selalu terjaga di tingkat internasional.
Kesimpulan:
Kuliah Umum bertajuk “10 Tahun Perjalanan Diplomasi Indonesia” berhasil memberikan wawasan yang komprehensif mengenai capaian diplomasi Indonesia selama satu dekade terakhir di bawah kepemimpinan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi. Prof. Darwis, M.A., Ph.D., yang merupakan guru besar di Departemen Hubungan Internasional menilai kebijakan luar negeri Indonesia dari sudut pandang akademis dan menggarisbawahi mengenai pentingnya evaluasi melalui parameter-parameter tertentu serta peran kunci yang dimainkan oleh Menlu Retno dalam berbagai pencapaian diplomasi, termasuk penyelenggaraan G20, peningkatan perdagangan, dan perlindungan WNI.
Dilain sisi Pak Bonifacius Riwi Wijayanto sebagai tamu dari Kementerian Luar Negeri menyoroti aspek praktis dari diplomasi, terutama dalam menghadapi tantangan di era VUCA. Beliau menjelaskan prioritas kebijakan negeri Indonesia yang dirangkum dalam konsep “4+1”, serta menekankan pentingnya pendekatan diplomasi yang action-oriented. Penjelasan beliau mengenai peran penting jabatan fungsional diplomat dan staf lainnya dalam diplomasi Indonesia menegaskan betapa vitalnya kontribusi SDM dalam menjaga kepentingan nasional di kancah internasional.
Secara keseluruhan, diskusi ini menegaskan bahwa keberhasilan diplomasi Indonesia selama 10 tahun terakhir adalah hasil dari sinergi antara teori dan praktik, memajukan posisi Indonesia di panggung global.
Penulis : Tamara, IB, Ivanah, Anggita


